-->
×

Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian PBB di Lebanon

3/31/26 | Selasa, Maret 31, 2026 WIB | 2026-03-31T07:32:18Z

JAKARTA - Duka menyelimuti Indonesia setelah tiga personel TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Batalyon Mekanis (Satgas Yonmek) XXIII-S/UNIFIL dilaporkan gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.


Ketiga prajurit tersebut gugur dalam tugas sebagai Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bawah misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemenhan RI) membenarkan adanya insiden yang menimpa prajurit TNI di wilayah penugasan tersebut. Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemenhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa kejadian terjadi saat personel tengah menjalankan tugas operasional.

"Situasi keamanan di wilayah penugasan dilaporkan mengalami eskalasi dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, pada 29 Maret 2026, satu prajurit TNI gugur dan beberapa lainnya mengalami luka-luka akibat dampak konflik yang terjadi di wilayah operasi," ucap Rico yang dikutip dari Republika di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Perkembangan terbaru yang diterima pada Senin (30/3/2026), kembali menunjukkan adanya insiden di wilayah Lebanon selatan. Insiden tersebut berdampak pada personel Satgas TNI yang sedang melaksanakan tugas pengawalan dalam mendukung kegiatan operasional UNIFIL.

"Dalam insiden tersebut, dua prajurit TNI dilaporkan gugur, sementara dua prajurit lainnya mengalami luka berat. Para prajurit yang mengalami luka saat ini telah mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan di Beirut," kata Rico.

Ia menjelaskan bahwa insiden terjadi di tengah meningkatnya intensitas pertempuran di wilayah perbatasan antara Lebanon dan Israel. Hingga kini, penyebab pasti kejadian masih dalam proses investigasi oleh pihak UNIFIL sesuai mekanisme yang berlaku.

"Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan dan TNI terus melakukan koordinasi erat dengan markas besar UNIFIL guna memastikan keselamatan seluruh personel serta menjamin penanganan terbaik bagi para korban," jelas Rico.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa proses evakuasi dan penanganan medis telah dilakukan secara cepat sesuai prosedur operasional PBB. Kemenhan juga memastikan bahwa keselamatan pasukan perdamaian menjadi prioritas utama.

"Seluruh pihak yang terlibat dalam konflik diharapkan menghormati hukum humaniter internasional serta menjamin keamanan personel penjaga perdamaian. Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam menjaga perdamaian dunia dan mendukung stabilitas kawasan melalui partisipasi dalam misi perdamaian PBB," kata Rico.

Diketahui, korban pertama dari TNI adalah Praka Farizal Rhomadhon. Sementara dua korban lainnya diidentifikasi sebagai seorang perwira Kopassus berinisial ZA dan seorang bintara dari Kodam IX/Udayana berinisial Sertu I.(RED)

×