Kota Bima, Beritabima.com – Stigma negatif terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih menjadi persoalan serius yang berdampak luas, mulai dari diskriminasi sosial hingga terhambatnya akses pengobatan. Hal tersebut disampaikan oleh tenaga kesehatan yang menangani program Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Puskesmas Mpunda, Evi Rahmawati S.Tr.Kep.Ners, Selasa (4/2/2026).
![]() |
Programer Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) Puskesmas Mpunda, Evi Rahmawati S.Tr.Kep.Ners |
Menurut Evi, stigma negatif terhadap HIV/AIDS merupakan pandangan, kepercayaan, atau sikap merendahkan terhadap ODHA yang kerap memicu diskriminasi di berbagai aspek kehidupan.
“Stigma negatif terhadap HIV/AIDS adalah pandangan atau sikap merendahkan terhadap ODHA yang dapat memicu diskriminasi. Hal ini sangat menghambat pemeriksaan, pengobatan, hingga kesejahteraan mental ODHA,” jelasnya.
Ia menuturkan, stigma tersebut sering kali muncul akibat ketakutan yang tidak berdasar serta mitos keliru mengenai cara penularan HIV.
“Masih banyak anggapan salah yang menyebut HIV menular melalui interaksi sehari-hari seperti bersalaman atau berbagi alat makan, bahkan ada pandangan bahwa HIV adalah hukuman atas perilaku tertentu,” ungkap Evi.
Lebih lanjut, Evi menjelaskan bahwa bentuk stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV sangat beragam, mulai dari penolakan sosial, pengucilan, hingga perlakuan tidak adil di tempat kerja, sekolah, bahkan layanan kesehatan.
“Diskriminasi bisa berupa ucapan merendahkan, penghindaran secara aktif, pengucilan sosial, penolakan di tempat kerja atau sekolah, hingga pelayanan kesehatan yang tidak layak. Dalam kasus tertentu, bahkan bisa berujung pada ancaman dan kekerasan,” katanya.
Dampak dari stigma dan diskriminasi ini, lanjut Evi, sangat merugikan ODHIV. Banyak dari mereka memilih menyembunyikan status kesehatan, enggan menjalani pengobatan, hingga mengalami tekanan psikologis.
“Stigma membuat ODHIV takut membuka statusnya, menghindari pengobatan yang berisiko menyebabkan putus obat bahkan kematian. Selain itu, muncul stigma internal seperti rasa malu, bersalah, depresi, dan menarik diri dari lingkungan sosial,” terangnya.
Evi menegaskan bahwa penyebab utama diskriminasi terhadap ODHIV adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS.
“Kurangnya pemahaman tentang cara penularan HIV, stigma negatif yang mengaitkan HIV dengan perilaku menyimpang, serta ketakutan berlebihan menjadi faktor utama terjadinya diskriminasi,” ujarnya.
Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat berperan aktif dalam menghentikan stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.
“Edukasi yang benar, dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan, advokasi kebijakan yang melindungi hak ODHIV, serta empati menjadi kunci. Prinsipnya, jauhi penyakitnya, bukan orangnya,” pungkas Evi.
Ia juga menekankan bahwa dengan pengobatan yang tepat, ODHIV dapat hidup sehat dan produktif seperti masyarakat pada umumnya, sehingga sudah seharusnya diperlakukan secara manusiawi dan bermartabat.(RED)




