Kota Bima, Beritabima.com – Dinas Kesehatan Kota Bima mencatat tren peningkatan kasus HIV/AIDS dari tahun ke tahun. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima, Ahmad, S.Sos., M.Kes melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Penyehatan Lingkungan (P3PL), Hj. Fitriani, SKM, M.Kes mengungkapkan, pada tahun 2025 jumlah temuan baru kasus HIV tercatat sebanyak 42 kasus. Sementara itu, hingga saat ini jumlah kasus HIV/AIDS secara kumulatif di Kota Bima mencapai 97 kasus.
Menurut Hj. Fitriani, peningkatan kasus HIV/AIDS di Kota Bima terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan cenderung terus meningkat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh semakin aktifnya upaya penemuan kasus di lapangan. Bahkan, pada periode 2024–2025, peningkatan kasus baru hampir mencapai 85 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tren kasus HIV/AIDS di Kota Bima cenderung meningkat dari tahun ke tahun, terutama karena upaya penemuan kasus yang semakin aktif,” ungkapnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bima, sebagian besar kasus HIV didominasi oleh laki-laki dengan rentang usia produktif, yakni 25 hingga 49 tahun. Dari sisi wilayah, temuan kasus baru HIV/AIDS tahun 2025 tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Mpunda, dengan jumlah penderita baru sebanyak 11 kasus.
Terkait mekanisme pendataan dan pelaporan, Dinas Kesehatan Kota Bima terus melakukan pendampingan skrining HIV di puskesmas, rumah sakit, serta layanan kesehatan lainnya. Selain itu, pendampingan pelaporan kasus dilakukan melalui sistem surveilans, yang disertai proses verifikasi serta pendampingan terhadap pasien HIV yang ditemukan.
Namun demikian, Hj. Fitriani mengakui bahwa belum seluruh kasus HIV di masyarakat dapat terdata secara optimal. Hal tersebut disampaikannya kepada Beritabima.com, Selasa (10/02/26), melalui pesan WhatsApp.
“HIV sering disebut sebagai fenomena gunung es. Artinya, kasus yang terdata kemungkinan hanya sebagian dari kondisi sebenarnya di lapangan,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa tantangan utama dalam menemukan dan mencatat kasus HIV di masyarakat adalah masih kuatnya stigma dan diskriminasi terhadap penderita, sehingga banyak masyarakat enggan melakukan tes HIV. Selain itu, perilaku berisiko masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ditambah dengan tingginya mobilitas penduduk dan pasien dari luar daerah.
Dalam penanganan dan pengobatan pasien HIV, Dinas Kesehatan Kota Bima bersama fasilitas layanan kesehatan terus memberikan edukasi dan dukungan, serta memastikan pengobatan berupa terapi antiretroviral (ARV) diberikan secara rutin dan terkontrol.
Upaya pencegahan penularan HIV juga terus diperkuat melalui pendampingan skrining rutin pada populasi berisiko, seperti ibu hamil, penderita tuberkulosis (TB), penderita infeksi menular seksual, pengguna narkoba suntik, LGBT, pekerja seks komersial, serta warga binaan pemasyarakatan. Selain itu, edukasi mengenai perilaku hidup sehat dan seks aman juga terus digencarkan.
Untuk kelompok remaja dan kelompok rentan lainnya, Dinas Kesehatan Kota Bima bersama layanan kesehatan secara aktif melakukan penyuluhan di sekolah, kampanye bahaya seks berisiko dan narkoba suntik, serta pendekatan kepada populasi kunci melalui komunitas dan tim penjangkau.
Peran puskesmas dinilai sangat penting dalam upaya pencegahan HIV. Puskesmas menjadi garda terdepan dalam pelaksanaan skrining dan konseling HIV. Saat ini, terdapat tiga layanan di Kota Bima yang telah memberikan pengobatan ARV, yakni dua puskesmas dan satu RSUD Kota Bima.
Lebih lanjut, Hj. Fitriani menegaskan bahwa stigma masyarakat masih sangat memengaruhi upaya penanganan HIV. Banyak masyarakat yang takut melakukan tes HIV, bahkan pasien yang telah terdeteksi kerap enggan memulai pengobatan ARV. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kasus HIV yang tersembunyi di tengah masyarakat.
Terkait hal tersebut, Dinas Kesehatan Kota Bima mengajak seluruh masyarakat untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).
“Jauhkan penyakit nya, bukan orangnya. Hiv tidak menular melalui bersalaman, bersentuhan, tinggal serumah, dan makan bersama karna orang dengan HIV berhak mendapat dukungan bukan penolakan,” tegasnya.
Masyarakat juga diimbau untuk melindungi diri tanpa rasa takut berlebihan terhadap ODHA, dengan cara rutin melakukan tes HIV secara berkala jika berisiko, setia pada satu pasangan, menggunakan kondom pada hubungan berisiko, serta tidak berbagi jarum suntik.
Ke depan, Dinas Kesehatan Kota Bima menargetkan penekanan penambahan kasus baru HIV melalui peningkatan deteksi dini pemeriksaan HIV. Dukungan dan peran lintas sektor, seperti pihak kelurahan, media, serta OPD terkait lainnya, diharapkan dapat membantu menggerakkan sasaran agar melakukan pemeriksaan HIV sedini mungkin.
Peran aktif masyarakat juga dinilai sangat penting, terutama dalam membantu petugas kesehatan menjangkau populasi kunci, termasuk remaja dengan perilaku berisiko, serta dengan tidak melakukan stigma dan diskriminasi terhadap pasien HIV.
Menutup pernyataannya, Dinas Kesehatan Kota Bima menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat bahwa HIV dapat dicegah dan diobati, serta mengajak semua pihak untuk bekerja sama dalam upaya pencegahan HIV/AIDS di Kota Bima.(RED)




