BIMA - Komite Pendirian Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bima resmi mengumumkan bahwa seluruh persyaratan administratif dan ketentuan sesuai peraturan perundang-undangan telah terpenuhi. Dengan capaian tersebut, proses pengajuan izin pendirian IAIN Bima kini memasuki tahapan lanjutan.
Ketua Komite Pendirian IAIN Bima, Profesor Muhammad, menyampaikan rasa syukur atas progres signifikan ini. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolektif dan konsistensi berbagai pihak sejak awal proses pengajuan.
“Alhamdulillah, seluruh persyaratan telah terpenuhi. Ini menjadi langkah penting dalam menghadirkan IAIN Bima sebagai institusi pendidikan tinggi keagamaan negeri yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Profesor Muhammad menyampaikan apresiasi kepada para tokoh dan tim yang terlibat, di antaranya Ahmad Thib Raya, almarhum Muhammad Nur, Bahtiar Simimbora, Ismail Thoib, Syarif Syarifudin, Gazali, Yudin Dae, dan Imran, serta sponsor utama Misfalah Rupe.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Menteri Agama Republik Indonesia, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin, serta Direktur Jenderal Pendidikan Islam Ahmad Suyitno atas dukungan dan pengawalan sejak tahun 2020.
Selain itu, dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bima juga dinilai sangat strategis, khususnya peran Ady Mahyudi bersama Wakil Bupati Irfan Zubaidin dalam mendorong percepatan proses pendirian institusi tersebut.
Tak kalah penting, kontribusi operator lapangan seperti Ndai Ruma Rengge Sape dan Sujirman Soejir turut diapresiasi karena memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai ketentuan.
Menutup pernyataannya, Profesor Muhammad mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendoakan agar proses ini segera memperoleh izin resmi dari Presiden Republik Indonesia.
“Semoga seluruh tahapan berjalan lancar dan IAIN Bima segera terwujud sebagai pusat pendidikan, pengembangan keilmuan, serta penguatan nilai-nilai keagamaan di Kabupaten Bima,” tutupnya.
Di tempat yang berbeda, Ndai Ruma Rengge Sapesalah satu tokoh Bima juga menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas capaian tersebut. Ia mengakui bahwa perjalanan panjang ini tidak selalu mudah, bahkan sering kali diiringi dengan pandangan sebelah mata terhadap kerja-kerja lapangan yang dianggap sepele oleh sebagian pihak.
“Alhamdulillah, semua ini adalah buah dari kesabaran dan ketekunan. Apa yang selama ini kami kerjakan mungkin terlihat kecil dan tidak dianggap, namun justru dari hal-hal itulah fondasi besar ini dibangun,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa setiap proses, sekecil apa pun, memiliki peran penting dalam memastikan kelengkapan dan keabsahan seluruh persyaratan. Kerja-kerja teknis yang kerap luput dari perhatian publik justru menjadi penentu kelancaran tahapan yang kini telah dicapai.
Ruma Rengge Sape pun berharap keberhasilan ini menjadi bukti bahwa dedikasi tidak selalu harus terlihat besar untuk memberikan dampak nyata. Ia mengajak semua pihak untuk terus menjaga semangat kebersamaan hingga proses pendirian IAIN Bima benar-benar tuntas dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.(RED)







