MATARAM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) mulai mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi potensi musim kemarau ekstrem yang kerap dijuluki "Kemarau Godzilla". Sejumlah strategi dan sarana pendukung tengah dimatangkan guna meminimalisir dampak kekeringan bagi masyarakat.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD NTB, Miftahuddin Anshary, menegaskan kesiapan pihaknya dalam menghadapi fenomena alam ini. “Kami sudah bersiap,” tegasnya baru baru ini.
Sebagai langkah konkret, BPBD NTB telah menyiapkan prasarana berupa tandon air berkapasitas 3.000 liter yang akan disebar ke wilayah-wilayah terdampak. Proses mitigasi diawali dengan pemetaan wilayah rawan sebagai dasar penentuan prioritas bantuan.
“Setelah itu, pendistribusian akan dilakukan secara terus-menerus sesuai kebutuhan,” jelas Miftahuddin.
Berkaca pada data tahun lalu, distribusi air bersih mencapai sekitar 480 tangki (kapasitas 2.000 liter per tangki). Tahun ini, intensitas bantuan ditargetkan melonjak signifikan hingga dua sampai tiga kali lipat. “Kita gunakan tandon berkapasitas 3 ribu liter itu untuk menampung air bersih,” tambahnya.
Meski persiapan teknis terus berjalan, tantangan klasik berupa keterbatasan dana masih membayangi. Saat ini, alokasi APBD yang tersedia hanya sekitar Rp 100 juta, angka yang dinilai jauh dari cukup untuk menghadapi kemarau tahun ini.
Untuk menutupi kekurangan tersebut, BPBD NTB berencana mengupayakan penambahan anggaran melalui skema Belanja Tidak Terduga (BTT). Namun, dana ini hanya bisa dicairkan setelah status tanggap darurat ditetapkan secara resmi. “Ini kan masih lihat dulu pergeserannya seperti apa,” ungkapnya.
Meskipun beberapa wilayah masih diguyur hujan, koordinasi antar pemerintah kabupaten/kota telah diperketat. Berdasarkan pengalaman dan pemetaan awal, wilayah Lombok bagian selatan seperti Keruak dan Jerowaru (Lombok Timur), serta Sekotong (Lombok Barat) diprediksi akan terdampak lebih awal. Selain itu, beberapa titik di Bima dan Sumbawa juga masuk dalam zona merah.
“Jadi keringnya ini merata,” kata Miftahuddin.
Senada dengan hal tersebut, Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB, Nindya Kirana, membenarkan bahwa pergeseran musim sudah mulai terjadi di bumi gora. Ia menegaskan bahwa saat ini beberapa wilayah di NTB memang telah mulai memasuki periode musim kemarau.(RED)
.png)






