MATARAM - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berhasil menembus dua besar nasional dalam tingkat minat baca. Capaian ini menegaskan keberhasilan strategi literasi yang dibangun secara terintegrasi, mulai dari tingkat desa hingga pemanfaatan teknologi digital.
“Capaian dua besar nasional ini menunjukkan bahwa upaya kita membangun budaya literasi mulai dari desa hingga digital sudah berada di jalur yang tepat,” ujarnya, Rabu, 1 April 2026 pada release resmi di akun media sosial Pemprov NTB.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026 yang bersumber dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, NTB mencatat skor minat baca sebesar 61,19 poin. Angka ini menempatkan NTB di posisi kedua secara nasional, di bawah Nusa Tenggara Timur (62,05 poin) dan di atas Sumatera Selatan (60,86 poin).
Ashari menegaskan, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang konsisten dalam membangun kebiasaan membaca di tengah masyarakat.
“Ini bukan capaian instan, tetapi kerja bersama antara pemerintah, sekolah, komunitas, hingga keluarga,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi NTB terus mendorong penguatan literasi melalui berbagai program strategis. Salah satunya adalah gerakan literasi berbasis masyarakat seperti NTB Terampil dan Tangkas, yang diimplementasikan melalui advokasi, sosialisasi, hingga kegiatan Kemah Literasi yang berkelanjutan.
Pembinaan literasi juga dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan perpustakaan di tingkat kabupaten/kota, sekolah, dan desa. Berbagai lomba literasi turut digelar, mulai dari resensi buku, video literasi, hingga lomba bertutur.
Di sisi lain, pelestarian literasi lokal dilakukan melalui pendataan dan digitalisasi naskah kuno bekerja sama dengan Museum NTB, sebagai upaya menjaga warisan intelektual daerah.
Secara kebijakan, Pemprov NTB memperkuat ekosistem literasi melalui Surat Edaran Gubernur yang mendorong peningkatan indeks literasi, kegemaran membaca, serta penguatan peran Bunda Literasi dan komunitas literasi.
Akses bahan bacaan juga terus diperluas melalui Gerakan Hibah Sejuta Buku (HIBAH SAKU). Hingga saat ini, sebanyak 840 desa/kelurahan telah memiliki perpustakaan dari total 1.166 desa/kelurahan, dengan dukungan 4.340 unit perpustakaan serta 166 komunitas literasi yang aktif.
Transformasi digital menjadi fokus penting, dengan pengembangan koleksi deposit sebanyak 12.016 judul, e-book NTB e-Library sebanyak 964 judul, serta katalog daring yang memuat lebih dari 68 ribu judul koleksi.
Selain itu, inovasi Gerakan Literasi Tradisional (GELITRA) dikembangkan untuk mendekatkan literasi kepada anak-anak melalui pendekatan budaya lokal, seperti permainan tradisional, membaca nyaring, dan mendongeng.
“Literasi harus menyenangkan dan kontekstual. Melalui GELITRA, kita menggabungkan budaya lokal dengan kebiasaan membaca,” tambahnya.
Pemprov NTB menegaskan bahwa capaian ini menjadi pijakan untuk memperluas literasi, tidak hanya sebagai indikator statistik, tetapi sebagai budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Ke depan, literasi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat NTB, bukan sekadar angka,” tutupnya.(RED)


