-->

Notification

×

Hardiknas 2026, Bunda Literasi NTB Tekankan Pentingnya Budaya Baca di Pelosok

5/04/26 | Senin, Mei 04, 2026 WIB | 2026-05-04T15:57:26Z

LOMBOK TENGAH - Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Bunda Literasi NTB Sinta M. Iqbal bersama organisasi Tastura Mengajar menyapa anak-anak di wilayah pelosok selatan Kabupaten Lombok Tengah.

Perjelas klik gambar

Kegiatan bertajuk "Bergerak di Selatan, Spesial Aksi di Hardiknas" tersebut berlangsung di Gubuk Panggel, Desa Mekar Sari, Kecamatan Praya Barat, Sabtu (2/5/2026).

Dalam kesempatan itu, Bunda Literasi NTB memberikan dukungan moral berupa bantuan alat tulis dan buku bacaan kepada anak-anak. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini juga bertujuan untuk memetakan kebutuhan mendesak masyarakat, khususnya di wilayah pelosok.

"Betapa pentingnya budaya baca bagi anak-anak kita, maka selain bantuan ini, disini bisa kita petakan kebutuhan dasar, mendesak bagi masyarakat yang ada dipelosok desa," jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa anak-anak di pelosok memiliki potensi yang tidak kalah dengan anak-anak di perkotaan.

"Di momentum Hardiknas ini, literasi itu penting, dan kita lihat dan buktikan bahwa disini ada anak-anak yang hebat dan luar biasa," ujarnya.

Melihat kondisi geografis dan akses pendidikan yang terbatas, Sinta tetap optimistis terhadap masa depan anak-anak di daerah tersebut.

"Berjalan 2 jam bolak balik sekolah. Tapi Insyaallah, mereka akan menjadi anak-anak NTB yang bermanfaat dan berguna dimasa depan," kata Bunda Literasi NTB, Sinta M Iqbal.

Selain memberikan motivasi, ia juga berdialog langsung dengan masyarakat Panggel untuk menyerap berbagai persoalan yang dihadapi warga. Bahkan, ia turut berjalan bersama anak-anak saat pulang sekolah.

Sementara itu, Ketua Tastura Mengajar, Lalu Gitan Prahana, mengungkapkan bahwa kendala utama yang dihadapi anak-anak di Panggel bukan hanya soal fasilitas belajar, tetapi juga akses menuju sekolah.

"Ada puluhan anak-anak Panggel yang belum merasakan akses jalan yang layak. Mereka harus berjalan kaki selama berjam-jam untuk dapat sampai sekolah. Saat musim hujan tiba, kondisi jalan yang rusak parah bahkan membuat anak-anak Panggel, tidak bisa berangkat ke sekolah sama sekali," urai Gitan.

Kondisi tersebut membuat tingkat kehadiran siswa sangat bergantung pada cuaca. Jalan yang berlumpur dan licin saat musim hujan tidak hanya menghambat, tetapi juga kerap memutus akses pendidikan bagi anak-anak di Gubuk Panggel.(RED)

×