DOMPU - Sebanyak 20 desa wisata di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini menghadapi kondisi memprihatinkan. Destinasi yang sebelumnya ramai dikunjungi wisatawan dan sempat viral di media sosial tersebut perlahan mulai kehilangan geliat.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Dompu, Feri Afrodi, mengungkapkan sejumlah desa wisata masih berupaya bertahan dengan mengandalkan pengelolaan oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
"Mereka tetap jalan dengan keterbatasan," ungkap Feri seperti dilansir dari detikBali, Sabtu (29/8/2026).
Menurut Feri, persoalan anggaran menjadi salah satu faktor utama yang membuat sejumlah desa wisata kesulitan berkembang. Keterbatasan tersebut berdampak terhadap keberlanjutan aktivitas maupun inovasi yang dapat ditawarkan kepada wisatawan.
"Contoh di Madaprama, mereka hidup kalau ada anggaran. Sekarang mati suri karena tidak ada anggaran. Sarae Nduha bisa aktif, tapi mereka ada tarik ulur antarpengurus dengan Pemdes (pemerintah desa)," imbuhnya.
Salah satu desa wisata yang sebelumnya cukup dikenal adalah Desa Saneo, Kecamatan Woja. Desa tersebut memiliki potensi wisata alam berupa Air Terjun Sori Panca dengan ketinggian mencapai sekitar 70 meter.
Namun, seiring berjalannya waktu, popularitas destinasi tersebut disebut perlahan meredup.
Kondisi 20 desa wisata tersebut menjadi tantangan bagi pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Dompu. Potensi alam dan desa yang sebelumnya mampu menarik perhatian wisatawan membutuhkan dukungan pengelolaan, inovasi, serta keberlanjutan pembiayaan agar tidak kembali ditinggalkan pengunjung.
Penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, Pokdarwis, dan masyarakat dinilai menjadi bagian penting untuk menghidupkan kembali desa-desa wisata tersebut sehingga potensi pariwisata sekaligus manfaat ekonominya dapat dirasakan masyarakat setempat.(RED)


.png)
.png)





