KOTA BIMA – Pemerintah Kota Bima terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam upaya menciptakan masyarakat yang aman, kondusif, harmonis, dan tangguh. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Forum Dialog bersama perwakilan Civil Society Mentor (CSM) Program ProKohesi The Habibie Center yang berlangsung di ruang pertemuan Rumah Dinning, Kelurahan Santi, Kota Bima, Selasa (14/7/2026).
Forum dialog ini menjadi ruang strategis untuk mempererat sinergi antara Pemerintah Kota Bima dan para mitra pembangunan dalam mendukung implementasi Program ProKohesi, yakni program yang bertujuan memperkuat ketahanan masyarakat dan mantan narapidana terorisme untuk mencegah ekstremisme berkekerasan sekaligus mempromosikan kohesi sosial.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofiyan, S.H., didampingi Sekretaris Daerah Kota Bima, Kepala Dinas Sosial, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag).
Turut hadir perwakilan Nusa Tenggara Center (NTC), The Habibie Center, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Densus 88, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya yang memiliki perhatian terhadap penguatan ketahanan sosial dan pembangunan di Kota Bima.
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Bima menyampaikan apresiasi kepada The Habibie Center, Nusa Tenggara Center, serta seluruh mitra Program ProKohesi yang dinilai telah memberikan pendampingan dan kontribusi nyata untuk kedua kalinya dalam memperkuat kohesi sosial di Kota Bima.
Ia menilai pendampingan tersebut memberikan dampak positif terhadap upaya pencegahan berkembangnya paham radikalisme dan ekstremisme di daerah.
"Saya aprrsiatif pada Habibie Center, Nusa Tenggara Center, dan juga pihak terkait, yang telah memberikan pendampingan dalam menanggulangi paham radikalisme, ekstremisme di Kota Bima," ujarnya.
Lebih lanjut, Wakil Wali Kota Bima menegaskan bahwa upaya pencegahan penyebaran paham radikal tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan kelembagaan melalui aparat keamanan.
"Upaya pendekatan atau pencegahan paham radikal ini, tidak cukup mampu dengan menggunakan pendekatan kelembagaan, misalnya, lembaga TNI, atau lembaga Kepolisian, tapi bisa dilakukan dengan pendekatan persuasif, seperti pendekatan sosial, ekonomi, dan juga pendektan ideologi, dan ini sudah dilakukan oleh teman-teman The Habibie Center, Nusa Tenggara Center, serta BNPT, dan ini terbukti berhasil," ungkapnya.
Dalam forum tersebut, berbagai pihak saling bertukar pandangan mengenai strategi memperkuat kolaborasi lintas sektor, membangun kepercayaan masyarakat, serta mendorong partisipasi aktif seluruh elemen dalam menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan toleran.
Selain menjadi ruang diskusi, forum dialog juga dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman, menyampaikan berbagai masukan, serta merumuskan langkah-langkah konkret guna mendukung keberlanjutan Program ProKohesi di Kota Bima.
Melalui forum dialog ini, Pemerintah Kota Bima kembali menegaskan komitmennya untuk terus membangun kemitraan yang produktif dengan seluruh pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Kota Bima yang aman, kondusif, harmonis, serta bebas dari ancaman paham radikalisme dan ekstremisme.(RED)

